Saat membaca judul di atas, kamu mungkin bertanya-tanya: Kok bisa, orang dengan IQ tinggi kerap membuat keputusan yang buruk?

Padahal, seperti yang kita tahu, orang ber-IQ tinggi punya kecerdasan yang tak perlu diragukan lagi.

Nah, daripada bingung tak berujung, langsung saja simak penjelasan pakar berikut ini:

Ahli menyebutkan, orang pintar membuat keputusan yang tidak terlalu pintar sepanjang waktu. Bahkan, pria yang dikenal sebagai “Oracle of Omaha” Warren Buffett telah lama mengatakan bahwa IQ bukanlah faktor penentu tunggal untuk sebuah kesuksesan.

Terkait hal itu, profesor pengembangan manusia di University of Toronto, Keith Stanovich, mengungkapkan jika ia telah mempelajari psikologi penalaran selama lebih dari satu dekade. Temuannya menunjukkan, tes IQ baik untuk mengukur kemampuan mental, seperti logika, penalaran abstrak, serta kapasitas memori. Akan tetapi, tes tersebut tak bisa diandalkan ketika seseorang ingin membuat sebuah keputusan dalam kehidupan nyata. 

Baca juga: Sulit Mengambil Keputusan Penting? Coba Terapkan Ritual Sederhana ini!

“Sebagai mitra di sebuah perusahaan modal ventura yang telah menghabiskan sebagian besar karier untuk mempelajari dan menulis tentang keuangan, saya telah menyaksikan beberapa contoh di mana kecerdasan tinggi mencegah orang membuat keputusan yang lebih baik,” terang Stanovich, sebagaimana dilansir CNBC.

Berikut dua fakta menarik tentang kecerdasan yang perlu kamu tahu:

1. Kecerdasan meningkatkan kemampuan untuk ‘membodohi’ diri sendiri dengan cerita rumit tentang mengapa sesuatu terjadi.

Mereka yang punya skor IQ tinggi tak selalu jadi pembelajar yang cepat, sebab mereka sering mencoba menjejalkan dunia nyata ke dalam teori-teori yang telah mereka ajarkan. Sebaliknya, orang kebanyakan tak demikian.

Ini masalahnya: “Kita cenderung menilai orang lain hanya berdasarkan tindakan mereka. Akan tetapi, ketika menilai diri sendiri, kita memiliki dialog internal yang membenarkan kesalahan dan keputusan buruk yang telah dibuat,” ungkap Stanovich.

Contoh: Jika kamu seorang manajer investasi yang mendapatkan pengembalian mengerikan, saya mungkin dapat menunjukkan secara langsung apa saja yang salah. Misalnya, membeli saat gelembung, menjual saat panik, atau tidak cukup diversifikasi.

Baca juga: Stres di PHK Akibat Pandemi Covid-19, ini Cara Tepat untuk Mengatasinya!

Tapi, jika saya adalah manajer investasi yang mendapatkan pengembalian mengerikan, saya bisa menceritakan kepada diri sendiri sebuah kisah yang membenarkan keputusan dan menjelaskan hasilnya. Saya mungkin akan berkata,”The Fed mendistorsi ekonomi” atau “Itu pasar yang salah!”

Karena itu, jangan pernah merasa diri selalu lebih baik daripada orang lain. Pasalnya, akan selalu ada pembenaran atas apa yang telah kamu lakukan, sekalipun itu salah.

Ingat, ketika kamu diberkati dengan kecerdasan, kamu juga ‘dikutuk’ dengan kemampuan menggunakannya untuk membuat cerita yang rumit (bahkan sering salah) – tentang mengapa sesuatu terjadi, terutama cerita yang membenarkan mengapa kamu melakukan kesalahan.

2. Kecerdasan mendorong kamu untuk berpikir bahwa masalah kompleks butuh solusi yang kompleks pula

Beberapa masalah yang rumit sebenarnya hanya perlu solusi yang sederhana. Sayangnya, orang cerdas kadang berpikir bahwa masalah kompleks membutuhkan solusi yang kompleks juga.

Dalam film dokumenter Ken Burns 2015 “Cancer: The Emperor of All Maladies,” seorang peneliti kanker bernama Robert Weinberg menjelaskan dengan sempurna kenapa orang-orang sangat cerdas seperti dirinya tak tertarik pada solusi yang sederhana, bahkan jika mereka sangat efektif.

Baca juga: Pandemi Covid-19 adalah Waktu Terbaik untuk Memulai Bisnis, ini Alasannya!

“Membujuk seseorang untuk berhenti merokok adalah latihan psikologis. Ini tak ada hubungannya dengan molekul, gen, atau sel. Jadi, orang-orang seperti saya pada dasarnya tidak tertarik dengan hal itu, terlepas dari kenyataan bahwa menghentikan orang dari merokok punya efek yang jauh lebih besar pada kematian akibat kanker daripada apapun yang bisa saya harapkan dalam hidup saya sendiri,” ujarnya.

Terlebih lagi, jika suatu masalah memang membutuhkan solusi yang kompleks, kemampuan untuk mengomunikasikannya secara sederhana sangat diperlukan agar orang lain mudah mengerti.

“Itu membuat saya bertanya-tanya: Berapa banyak akademisi jenius yang menemukan sesuatu yang luar biasa, tapi menulisnya di sebuah makalah yang begitu padat dan rumit, sehingga tak ada orang lain yang bisa memprosesnya? Saya pikir, banyak!” tutupnya.

Bagaimana, apakah kamu termasuk orang dengan IQ yang tinggi?