Generasi milenial punya gaya hidup yang tergolong boros. Ketika punya uang, mereka tak segan menghabiskannya untuk hal-hal yang sifatnya konsumtif, salah satunya sebut saja untuk hangout di tempat mahal. You Only Live Once alias YOLO, begitu kata mereka!

Di sisi lain, generasi milenial juga dikenal sebagai generasi yang punya tingkat literasi digital cukup baik ketimbang generasi pendahulunya. Meski begitu, literasi mereka terkait finansial nyatanya masih terbilang minim.

Bank Sentral Amerika Serikat bahkan mengklaim jika keuangan generasi milenial kondisinya lebih ‘miskin’ daripada generasi sebelumnya. Generasi milenial dinilai punya kebiasaan belanja yang sama seperti orang tuanya, akan tetapi dengan jumlah uang yang lebih sedikit.

Di Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebutkan bahwa generasi milenial sangat rentan terkena masalah finansial. Anggota Dewan Komisioner OJK Bidang Edukasi dan Perlindungan Konsumen Tirta Segara mengatakan, hal itu disebabkan karena kurangnya pemahaman generasi milenial terhadap finansial.

“Ini ada sebuah risiko, karena mereka punya akses tetapi tidak paham apa yang diakses, tidak paham apa yang dibeli dari jasa-jasa keuangan,” ujar Tirta seperti dilansir Merdeka.com.

Lantas, apa saja sih masalah finansial yang kerap menghantui generasi milenial? Berikut ulasan lengkapnya!

Gaji ‘numpang lewat’

Ini salah satu masalah finansial yang sering dialami oleh generasi milenial. Baru gajian, beberapa hari kemudian sudah habis tanpa sisa.

Perlu diketahui, masalah tersebut bisa timbul karena seseorang tidak punya anggaran keuangan yang jelas setiap bulannya. Uang yang dimiliki akan menguap entah ke mana, tentu saja untuk hal-hal yang sifatnya konsumtif. Solusi terbaik, buatlah daftar anggaran bulanan dan patuhi hal tersebut.

Baca juga: Keren, ini 5 Destinasi Wisata Eksotis di Indonesia yang Wajib Dikunjungi Generasi Milenial!

Tak punya tujuan finansial

Setiap orang harus punya tujuan finansial. Sayangnya, generasi milenial kerap melupakan hal tersebut. Mereka biasanya hanya memikirkan kondisi saat ini, dan cenderung mengabaikan kondisi masa depan. Padahal, jika tujuan finansial tidak jelas, seseorang tak akan bisa punya terget pencapaian yang jelas juga.

Penulis buku “Millennial Money Fix” Douglas Boneparth menuturkan, generasi milenial harus mengidentifikasi tujuan keuangan mereka. Misal, mereka harus mengumpulkan uang untuk membeli rumah atau membangun sebuah keluarga. “Ini hidup Anda, jadi hanya Anda yang bisa memutuskan apa yang akan Anda kejar,” ujarnya seperti dilansir Kompas.com.

Tagihan kartu kredit bengkak

Ketika uang di rekening telah kosong, generasi milenial tak kehabisan akal. Mereka tak ragu menggunakan kartu kredit untuk memenuhi gaya hidupnya. Tak jarang, mereka memanfaatkan kartu tersebut tanpa kendali hingga menyebabkan tagihan kartu kredit membengkak di bulan berikutnya. Ini juga masalah finansial yang kerap menghantui generasi milenial dan wajib dihindari.

Banyak cicilan

Masalah finansial yang kerap dialami generasi milenial berikutnya adalah cicilan yang terlampau banyak. Makin mudahnya akses terhadap cicilan membuat kaum milenial tak pikir panjang untuk mencicil beberapa barang yang diinginkan, mulai dari ponsel, kendaraan, atau elektronik. Jika tak dikontrol dengan baik, uang yang dimiliki bukan tak mungkin akan selalu habis untuk membayar cicilan-cicilan tersebut.

Baca juga: Kerap Dicap Negatif, Mampukah Generasi Milenial jadi Pemimpin yang Berkualitas?

Tak punya dana darurat

Kaum milenial seringkali tak memiliki dana darurat. Padahal, dana ini sangat penting untuk mengantisipasi hal-hal yang tak diinginkan, seperti tiba-tiba jatuh sakit atau kendaraan rusak di akhir bulan. Idealnya, seseorang harus memiliki dana darurat dengan jumlah yang lebih besar daripada pengeluarannya setiap bulan.

Sebagai generasi milenial, kamu perlu cerdas dalam mengelola keuangan. Poin penting yang utama adalah menghindari perilaku konsumtif. Daripada uang yang kamu miliki habis begitu saja untuk hal-hal yang (sebenarnya) tidak begitu penting, ada baiknya gunakan uang tersebut untuk aktivitas yang lebih bermanfaat, seperti investasi.

Jangan pernah menganggap bahwa investasi itu perlu modal banyak dan kemampuan finansial yang mumpuni. Kenapa? Sebab saat ini sudah ada instrumen investasi yang mudah dijalankan, aman, dan menguntungkan dengan modal yang terjangkau.

Kamu bisa berinvestasi di sektor Peer to Peer (P2P) Lending, seperti platform Danain. Imbal hasil yang ditawarkan cukup menjanjikan, minimal 8% maksimal 120% per tahun. Dana yang kamu investasikan juga sangat aman, sebab pihak peminjam menyerahkan agunan berupa emas atau logam mulia kepada perusahaan pergadaian yang bermitra dengan Danain. Selengkapnya, baca: Catat, Ini Segudang Keuntungan Nabung di Danain Ketimbang di P2P Lending Lain!