Fenomena gaji istri lebih besar daripada suami masih banyak ditemukan di sekitar kita. Pertanyaannya: Apa yang harus dilakukan dalam kondisi tersebut?

Menurut penelitian yang dilakukan Biro Sensus AS pada 2018 lalu, jumlah wanita yang menjadi pencari nafkah utama dalam keluarga terus meningkat. Dalam satu dari empat pasangan yang menikah, wanita diketahui punya penghasilan lebih besar daripada suami mereka.

Terkait hal itu, sebuah studi terbaru dari University of Bath mengungkapkan bahwa tren seperti ini punya dampak buruk pada kesehatan mental pasangan pria. Dalam prosesnya, peneliti melakukan riset terhadap 6.000 pasangan menikah di Amerika selama 15 tahun untuk melihat dampaknya pada kesehatan fisik dan mental, kepuasan hidup, serta hubungan dengan orang lain.

Hasil yang ditemukan: pria merasa paling cemas ketika mereka jadi pencari nafkah tunggal dalam keluarga, sedangkan yang paling tidak stres adalah ketika pasangan wanita mereka berkontribusi 40 persen terhadap pendapatan rumah tangga. Sementara itu, pria akan menjadi tidak nyaman dan stres ketika pasangan wanita mereka punya penghasilan yang lebih besar daripada dirinya.

Kenapa demikian?

Norma-norma gender sosial tradisional kerap menunjukkan bahwa kaum pria harus jadi pencari nafkah dalam suatu hubungan.

Baca juga: Agar Terhindar dari Masalah, ini 5 Tips Cerdas Atur Keuangan Bersama Pasangan!

“Banyak orang Amerika menganut kepercayaan bawah sadar yang mengakar bahwa pria harus mampu menyediakan finansial yang tepat untuk keluarga mereka. Jika tak memenuhi harapan itu, maka berpotensi merusak harga diri,” ujar Farnoosh Torabi, pakar keuangan sekaligus penulis “When She Makes More.”

Penelitian lain menunjukkan bahwa norma-norma maskulinitas bisa menghalangi kemampuan pria untuk mencari dukungan kesehatan mental. “Uang menambah lapisan kompleksitas, karena ini adalah topik menegangkan yang penuh emosi, terutama dalam konteks hubungan,” lanjut Torabi.

Ketika perempuan menjadi pencari nafkah, pasangan pria sulit untuk mendiskusikan emosi yang mungkin timbul. Diungkapkan Torabi, sangat meresahkan bagi beberapa pasangan, terutama bagi mereka yang dibesarkan dalam kondisi untuk percaya bahwa pria harus menghasilkan uang lebih banyak daripada istri.

“Satu-satunya cara untuk melewati titik ‘sakit’ ini adalah membicarakannya dengan pasangan Anda,” pungkas Torabi sebagaimana dilansir CNBC.

Baca juga: Agar tetap Harmonis, Lakukan 5 Hal ini ketika Gaji Istri Lebih Besar dari Suami! 

Meski demikian, ada strategi praktis yang bisa diterapkan oleh pasangan yang sedang bergulat dengan ketidakseimbangan ini. Menemukan cara untuk meningkatkan level permainan finansial, sehingga setiap orang dapat merasa berharga secara finansial dalam suatu hubungan, terlepas dari apa yang mereka peroleh. Kata Torabi, itu adalah kuncinya.

Contoh sederhananya: mungkin suami bisa berkontribusi untuk beberapa hal, seperti dana pendidikan atau liburan, sementara istri menanggung sebagian besar biaya kebutuhan sehari-hari.

Cara lainnya, pria juga bisa berdiskusi tentang beberapa aspek utama dalam kehidupan yang bisa dikelola. Misal: seperti membantu merawat anak atau memasak.

Kenapa begitu? Sebab penelitian lain mengungkapkan, ketika wanita menghasilkan lebih banyak uang, mereka juga mengambil lebih banyak tanggung jawab dalam rumah tangga.

Baca juga: Penting, 6 Masalah Finansial ini Harus Dibicarakan dengan Pasangan Sebelum Menikah! 

Nah, jika pasangan pria bisa memanfaatkan kondisi tersebut, dalam artian mengambil sebagian peran istri dalam rumah tangga, maka potensi terjadinya konflik akibat perbedaan penghasilan bisa diminimalisir.

Di luar semua itu, temuan ini bisa dibilang sebuah peluang yang baik bagi pasangan yang telah menikah. Pasalnya, mereka bisa saling bertanya tentang apa yang dibutuhkan untuk membantu menyeimbangkan beban, setidaknya untuk menutup kesenjangan penghasilan.

Semoga bermanfaat!