Utang jadi salah satu fenomena ekonomi yang sulit lepas dari kehidupan manusia. Tak hanya orang biasa, konglomerat dan negara sekalipun sejatinya punya utang.

Pada dasarnya, ada banyak faktor yang menyebabkan seseorang memutuskan untuk berutang. Ada yang sengaja berutang untuk modal usaha, biaya pengobatan, atau kebutuhan lain yang sifatnya mendadak.

Utang bisa diibaratkan dua sisi mata mata pisau. Utang bisa membawa dampak positif, bisa pula berdampak negatif. Hal tersebut tentu saja tergantung bagaimana tujuan dan penggunaannya. Apabila digunakan sebagai modal usaha yang notabene menghasilkan keuntungan, keputusan untuk berutang bisa dibilang berdampak positif. Tapi, jika digunakan untuk hal-hal yang sifatnya konsumtif, siap-siap saja dihampiri masalah finansial.

Secara garis besar, ada 4 jenis utang yang bisa mendatangkan bencana bagi kehidupan finansial Anda. Karena masuk kategori berbahaya, penting bagi Anda untuk menghindari jenis-jenis utang tersebut dan jangan sampai terjebak di dalamnya.

Berikut 4 jenis utang yang harus Anda jauhi:

Utang untuk hura-hura

Utang jenis ini biasanya disebabkan karena seseorang ingin memenuhi nafsu duniawinya, seperti belanja barang mewah, makan di tempat mahal, hingga liburan dengan biaya yang mahal. Utang yang seperti ini tentu akan mendatangkan masalah bagi kehidupan finansial. Bukan tak mungkin jika ke depannya Anda akan kesulitan untuk melunasi utang tersebut, sebab penghasilan yang Anda punya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja.

Sebagai catatan, jika ternyata Anda sudah terlanjur memiliki utang jenis ini, cobalah untuk sesegera mungkin melunasinya. Anda bisa mencari pekerjaan tambahan sebagai jalan keluar. Semakin cepat utang jenis ini dilunasi, maka akan lebih nyaman pula Anda menjalani hidup.

Utang untuk membayar utang

“Gali lubang tutup lubang”. Ya, itulah peribahasa yang menggambarkan jenis utang satu ini. Secara garis besar, berutang untuk melunasi utang sebenarnya tidak memilki manfaat sama sekali. Pasalnya, Anda akan tetap punya utang meskipun utang sebelumnya telah lunas.

Pertanyaannya, bagaimana Anda membayar utang berikutnya? Apa dengan cara mengajukan utang lagi? Mau sampai kapan?

Solusi terbaik, jika memang Anda memiliki utang, lunasilah segera utang itu agar Anda bisa keluar dari ‘lingkaran hitam’ tersebut.

Baca juga: Awas, 5 Hal Ini Ternyata Bikin Kamu Sulit Lepas dari Utang!

Utang sebagai ‘tabungan’

Tak sedikit orang menganggap kartu debit sama dengan kartu kredit. Padahal, dua jenis kartu tersebut  sangatlah berbeda. Jika kartu debit saldonya tergantung uang yang Anda miliki di bank, kartu kredit saldonya tergantung batas maksimal yang telah disepakati di awal.

Sederhananya, jika Anda bertransaksi menggunakan kartu debit, maka uang di tabungan Anda otomatis akan berkurang. Sebaliknya, jika Anda bertransaksi menggunakan kartu kredit, maka beban tagihan Anda justru malah bertambah. Jadi, jangan pernah beranggapan jika utang (kartu kredit) bisa berfungsi sebagai ‘tabungan’.

Di sisi lain, penggunaan kartu kredit merupakan penyebab paling umum seseorang memiliki utang. Kendati bisa jadi solusi untuk membeli sesuatu di saat keuangan telah menipis, namun tetap saja penggunaan kartu kredit akan membuat Anda jadi punya utang. Solusi terbaik, gunakanlah uang tunai setiap kali berbelanja.

Utang yang sifatnya impulsif

Terkadang, ada orang yang mengajukan utang tanpa punya perencanaan terlebih dahulu. Mereka asal berutang saja, tapi tidak tahu uangnya untuk apa. Ujung-ujungnya hanya digunakan untuk foya-foya semata.

Utang jenis ini biasanya terjadi akibat rayuan dari marketing lembaga keuangan. Karena disuguhkan penawaran-penawaran yang menarik, seseorang biasanya tanpa sadar langsung terpengaruh dan akhirnya mengambil kartu kredit yang ditawarkan. Untuk menghindari utang jenis ini, cobalah untuk batasi diri dengan orang-orang yang menawarkan kartu kredit.

Itulah 4 jenis utang yang sejatinya harus Anda hindari. Alih-alih mengambil utang, alangkah baiknya jika Anda mengalokasikan uang yang dimiliki untuk hal-hal yang bermanfaat, seperti untuk dana darurat atau investasi. Ingin tahu jenis-jenis investasi yang ada di Indonesia? Baca: Investasi itu Banyak Macamnya, ini 7 Jenis Investasi Paling Populer di Indonesia!

Sementara itu, berhubung sekarang ini tanggal ‘muda’, mulailah dengan sesuatu yang baik dalam hal mengelola keuangan. Agar kondisi finansial tetap stabil hinga akhir bulan, menerapkan metode 50/30/20 bisa jadi solusi terbaik. Selengkapnya, baca: Jor-joran di Awal Bulan, Akhir bulan, atau Setiap Hari, Kamu Tipe yang Seperti Apa?