Pernah merasa tidak boros, tapi uang bulanan selalu habis? Dalam kondisi tersebut, Anda mungkin akan berusaha mengingat-ingat, apa saja barang yang telah dibeli, sehingga membuat dompet jadi tipis.

Perlu Anda tahu, ada banyak kebiasaan sehari-hari yang tanpa disadari bisa merugikan finansial. Salah satunya sebut saja menggelontorkan uang untuk hal-hal yang sebenarnya ‘sepele’, seperti membeli kopi di kedai kopi, di mana konsumsi itu sebenarnya tidak termasuk dalam daftar belanja yang telah dianggarkan setiap bulannya.

Pengeluaran kecil seperti yang disebutkan tadi tentu saja akan jadi masalah jika sudah menjadi sebuah rutinitas. Jika tak dihentikan sesegera mungkin, jangan heran jika pengeluaran Anda setiap bulan akan terus membengkak.

Seorang penulis sekaligus motivator finansial berkebangsaan Amerika Serikat, David Bach, menciptakan sebuah istilah untuk pengeluaran yang sebenarnya tidak perlu tersebut. Adalah Latte Factor. Kata “Latte” diambil David dari secangkir kopi dan merupakan pengalamannya ketika minum kopi di sebuah kafe.

Diungkapkan David, bagi sebagian orang, mengonsumsi  kopi merupakan sebuah rutinitas yang tanpa disadari membuat pengeluaran jadi bengkak. Padahal, lanjut dia, membeli kopi adalah pengeluaran yang bisa dibilang tidak terlalu penting. Jika dijumlahkan dalam sebulan, totalnya bisa saja lebih besar daripada biaya yang dikeluarkan untuk bayar listrik atau air.

Jika seseorang terbiasa membeli kopi di kedai kopi dengan harga (katakanlah) Rp 30 ribu, artinya dalam sebulan ia akan mengeluarkan uang sekitar Rp 900 ribu hanya untuk minuman tersebut. Padahal jika membeli bubuk kopi dan membuatnya sendiri, biaya yang dikeluarkan tentu saja akan lebih sedikit. Poin pentingnya, meminimalisir Latte Factor bukan berarti melarang seseorang untuk mengonsumsi kopi.

David menambahkan, Latte Factor sebenarnya tidak hanya dalam wujud kopi. Bentuknya bisa bermacam-macam, seperti kebiasaan membeli minuman ringan, camilan, aksesoris, dan lain sebagainya. Intinya, setiap orang memiliki Late Factor masing-masing yang perlu diantisipasi.

Salah satu bank ternama di Indonesia pernah melakukan survei internal terkait Latte Factor. Survei tersebut menyebutkan bahwa 9 dari 10 orang mengeluarkan lebih dari Rp 900 ribu untuk Latte Factor tiap bulannya. Pengeluaran terbesar terletak pada kebutuhan sandang yang sekunder, seperti membeli sepatu, baju, atau tas. Angkanya mencapai 58%. Demikian dilansir Tirto.id.

Pengeluaran terbesar selanjutnya ada pada transportasi online, angkanya mencapai 15%. Pengeluaran jenis ini sebenarnya bisa ditekan jika seseorang menggunakan moda transportasi massa, seperti bus atau kereta. Adapula pengeluaran lain, semisal membeli makanan ringan, kopi, hingga biaya transfer atau administrasi bank.

Terkait fenomena Latte Factor, Psikolog Ajeng Raviando mengungkapkan bahwa masalah tersebut kebanyakan dialami oleh generasi milenial. Generasi tersebut kerap mengeluarkan uang untuk hal-hal yang kurang penting, yang notabene hanya untuk sekadar memuaskan nafsu atau mengikuti tren.

“Latte Factor berhubungan erat dengan kepuasan sesaat, di mana orang terdorong untuk mendapatkan apa yang ia inginkan saat itu juga,” ujar Ajeng sebagaimana dilansir Antara.

Baca juga: Jor-joran di Awal Bulan, Akhir bulan, atau Setiap Hari, Kamu Tipe yang Seperti Apa?

Ajeng juga menjelaskan, Latte Factor biasanya muncul karena beberapa alasan. Bisa karena kebiasaan atau tekanan dari lingkungan. Misal, jika Anda setiap pagi membeli kopi di kafe, maka secara tidak sadar Anda akan selalu mampir ke kafe tersebut tanpa pikir panjang. Atau jika ada teman yang mengajak hangout di kafe, maka Anda akan mengikutinya dengan alasan pertemanan.

Latte Factor pada dasarnya perlu diminimalisir. Hal tersebut penting untuk mencegah kebocoran anggaran setiap bulannya. Langkah pertama yang harus Anda lakukan: Kenali dan identifikasi pengeluaran-pengeluaran yang tidak penting setiap harinya. Jika sudah, mulailah tekan pengeluaran tersebut semaksimal mungkin.

Perlu Anda ingat, pengeluaran-pengeluaran kecil yang biasanya Anda lakukan sebenarnya bisa digunakan untuk hal-hal yang lebih bermanfaat. Salah satunya untuk investasi. Dengan berinvestasi, kebebasan finansial pun bisa Anda raih di masa depan.

Ingin berinvestasi dengan aman, mudah, dan menguntungkan? Anda bisa manfaatkan platform Danain sebagai sarana investasi! Keunggulannya, baca: Catat, Ini Segudang Keuntungan Nabung di Danain Ketimbang di P2P Lending Lain!