Ancaman resesi ekonomi masih menghantui kita semua. Pemerintah pun terus berusaha untuk menumbuhkan perekonomian kuartal III 2020 guna menghindari masalah tersebut.

Terkait hal itu, Presiden Joko Widodo mengungkapkan bahwa menumbuhkan ekonomi memang bukan perkara mudah, sehingga butuh kerja keras. “Kita harapkan, kita ingin (ekonomi) tumbuh, tapi ini memang perlu kerja keras,” ujarnya sebagaimana disiarkan YouTube Sekretariat Presiden dan dilansir Kompas TV.

Bicara resesi, kurang lengkap rasanya jika tak mengulas ancaman pengangguran dalam dunia kerja. Maklum, ketika resesi terjadi, biasanya banyak pekerja formal atau menengah yang terancam kehilangan pekerjaan. Karena itu, penting bagi pekerja kelas menengah untuk mengantisipasi ancaman tersebut.

Pengamat Ketenagakerjaan Universitas Gadjah Mada (UGM) Tadjuddin Nur Effendi mengatakan, para pekerja kelas menengah sebaiknya sudah memasang ancang-ancang untuk menghadapi ancaman resesi. Pasalnya, jika kondisi ekonomi semakin memburuk, bukan tak mungkin mereka akan mengalami Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). 

Baca juga: Ancaman Resesi, Investasi Emas Lebih Cuan!

Tadjuddin juga mengungkapkan, pekerja kelas menengah dituntut untuk aktif dan terus mengasah kreativitasnya agar bisa bertahan di masa resesi. Dalam kondisi seperti ini, kata dia, pekerja tak bisa lagi manja dan terus berharap akan dipekerjakan lagi oleh pihak perusahaan. Alasannya, lowongan pekerjaan pasti akan berkurang.

Meski demikian, Tadjuddin mengklaim jika pekerja kelas menengah punya keunggulan yang bisa dimanfaatkan. Secara umum, lanjutnya, mereka punya kemampuan yang mumpuni. Mereka tergolong dalam angkatan kerja lulusan SMU atau sarjana yang bisa memasarkan kemampuannya secara mandiri.

Hal itu tentu akan memudahkan mereka, terlebih saat ini pasar tenaga kerja di Tanah Air sangat fleksibel dan terbuka untuk semua orang.

Contoh sederhananya sebut saja di sektor informal. Siapapun bisa ambil bagian kerja di sana, asal punya modal atau kemampuan.

“Pasar kerja Indonesia yang sangat fleksibel harus dimanfaatkan, sangat terbuka, siapa pun bisa masuk. Di sektor informal siapa saja bisa masuk asal ada modal karena tidak perlu izin usaha,” ungkap Tadjuddin, sebagaimana dikutip dari CNN Indonesia.

Ia pun memberi contoh seorang pengajar. Menurutnya, seorang pengajar bisa memakai kemampuannya untuk membuka jasa kursus secara online. Begitupun bagi seorang penerjemah. Jika mereka kehilangan pekerjaan, mereka bisa mengajar bahasa asing di dunia maya.

Baca juga: 7 Hal yang Perlu Dipersiapkan untuk Menghadapi Ancaman Resesi

Di sisi lain, E-commerce juga bisa diandalkan sebagai salah satu alternatif. Di sana, kamu bisa memasarkan berbagai jenis barang, termasuk yang diproduksi secara mandiri.

Sejalan dengan hal itu, Ekonom Indef Abra PG Talattov menuturkan bahwa para pekerja kelas menengah juga harus mulai memperbaiki pengelolaan finansialnya, selain mencetak lahan pekerjaan. Salah satu yang disarankan adalah melakukan penghematan.

Kenapa demikian? Sebab mungkin saja PHK yang awalnya hanya ancaman, akan berubah jadi kenyataan. Penghematan perlu dilakukan untuk menunjang kondisi finansial.

Tak hanya itu, Abra juga menyarankan agar para pekerja mulai mencari fasilitas relaksasi kredit sebagai langkah antisipasi. Saran ini ditujukan bagi mereka yang punya kewajiban jangka panjang, seperti pembayaran KPR atau kendaraan.

Sekadar informasi, ekonomi Indonesia kabarnya tengah berada di ambang resesi. Hal itu tak lepas dari kondisi ekonomi Tanah Air di kuartal II 2020 yang tumbuh negatif 5,32% secara year on year. Masyarakat pun disarankan untuk memiliki dana darurat yang ideal guna menghadapi ketidakpastian global. Caranya? Baca ini: Langkah Tepat Siapkan Dana Darurat untuk Hadapi Ancaman Resesi