Ekonomi Indonesia kabarnya tengah berada di ambang resesi. Hal itu tak lepas dari kondisi ekonomi Tanah Air di kuartal II 2020 yang mengalami kontraksi alias tumbuh negatif 5,32% secara year on year.

Terkait hal itu, masyarakat disarankan untuk memiliki dana darurat yang ideal guna menghadapi ketidakpastian global. Dana tersebut penting untuk mengantisipasi hal-hal yang tak diingingkan di kemudian hari.

Perencana keuangan dari Advisors Alliance Group Andy Nugroho menyarankan agar karyawan yang saat ini masih bekerja untuk mulai menyisihkan dana darurat guna menghadapi krisis ekonomi. Kata dia, besaran dana darurat bisa disesuaikan dengan gaji yang diterima tiap bulan.

Berapa nominalnya?

Menurut Andy, idealnya, kamu harus menyisihkan dana darurat sebesar 20 persen dari penghasilan. Contoh: Jika kamu menerima gaji Rp 5 juta setiap bulan, maka kamu harus menyisihkan Rp 1 juta untuk dana tersebut.

Baca juga: Indonesia Terancam Resesi, ini yang Perlu Kamu Lakukan untuk Menghadapinya!

Di samping itu, Andy juga mengimbau para pekerja untuk mulai mengurangi aktivitas hiburannya di masa seperti ini. Ia menyarankan untuk memangkas setengah dari total yang dianggarkan, kemudian mengalihkannya menjadi dana darurat.

“Kesenangan pribadi saya sarankan juga anggaran dikurangi. Biasanya kan untuk leisure itu 10 persen dari total pendapatan. Misalnya gaji Rp 5 juta sekitar Rp 500 ribuan, kurangi lagi setengahnya jadi 5 persen. Kan lumayan, 5 persen lagi bisa saving,” ujarnya sebagaimana dilansir CNN Indonesia.

Andy juga mendorong pekerja untuk mulai mencari pekerjaan sampingan guna menambah penghasilan. Bisa dengan berbisnis atau yang lainnya. Jadi, jika sewaktu-waktu terjadi PHK, paling tidak ada ‘pelampung’ yang bisa mengamankan.

Yang tak kalah penting, cari pula instrumen investasi yang tepat untuk menghadapi ancaman resesi. Salah satu yang direkomendasikan Andy sebut saja logam mulia.

Baca juga: Ancaman Resesi, Investasi Emas Lebih Cuan!

Senada dengan Andy, perencana keuangan dari Finansia Consulting Eko Endarto menuturkan bahwa ancaman resesi bisa jadi waktu yang tepat untuk memperbaiki kondisi keuangan. Menurut dia, masa krisis bisa mengubah kebiasaan finansial seseorang secara drastis dalam waktu singkat.

Eko pun sependapat jika dana darurat penting untuk dimiliki di tengah ketidakpastian global seperti saat ini. Selain untuk mengantisipasi terjadinya PHK, dana ini juga diperlukan jika sewaktu-waktu inflasi melambung tinggi dan harga kebutuhan pokok ikut melonjak tajam.

Sedikit berbeda dengan Andy, dalam hal ini, Eko menyarankan untuk menyisihkan dana darurat minimal 30 persen dari total penghasilan. Ia pun melakukan simulai, misalnya: Jika kamu memperoleh gaji sebesar Rp 5 juta setiap bulan, maka kamu harus menyisihkan Rp 1,5 juta untuk dana darurat.

Baca juga: 7 Hal yang Perlu Dipersiapkan untuk Menghadapi Ancaman Resesi

Sedangkan 70 persen sisanya bisa dipakai untuk pengeluaran wajib bulanan, seperti sewa tempat tinggal sebesar 15 persen, makan 30 persen, transportasi dan pulsa 25 persen.

“Kenapa makan 30 persen? Nah, ini harus sama dengan saving untuk dana darurat. Jadi, misalkan ada PHK, paling enggak uang dia saving itu bisa dipakai untuk makan. Sisanya pesangon dari kantor bisa dipakai untuk bisnis dan lain-lain,” pungkasnya.

Eko menjelaskan, simulasi tersebut adalah rencana finansial untuk menghadapi risiko terburuk dari pandemi yang terjadi. Artinya, ada banyak kebutuhan lain yang sudah dipangkas, semisal aktivitas hiburan dan kebutuhan sekunder lainnya.

Yuk, segera siapkan dana darurat sebelum resesi benar-benar terjadi!