Baru-baru ini, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memberikan sinyal bahwa Indonesia bakal masuk jurang resesi pada kuartal III 2020. Alasannya, pertumbuhan ekonomi diperkirakan minus 3,4 persen pada kuartal II dan minus 1 persen pada kuartal berikutnya.

Sekadar informasi, resesi adalah kondisi saat pertumbuhan ekonomi suatu negara negatif dalam dua kuartal atau lebih secara berturut-turut. Dalam hal ini, Singapura dan Korea Selatan adalah dua negara yang lebih dulu mengumumkan resesi akibat pandemi covid-19.

Meski memberikan sinyal tersebut, namun Airlangga mengaku optimis bahwa pertumbuhan ekonomi bisa meningkat pada kuartal IV 2020. “Kami berharap di 2020 kita masih berada dalam jalur positif,” ungkapnya dalam forum diskusi virtual Yayasan Pembangunan Indonesia, sebagaimana dilansir CNN Indonesia.

Airlangga menambahkan, meski ancaman resesi ada di depan mata, tapi kondisi Indonesia diperkirakan masih akan lebih baik dari negara-negara lainnya. Sebut saja di kawasan Asia Tenggara. Di sini, Indonesia setidaknya masih lebih baik daripada Malaysia, Thailand, Filipina, atau Singapura.

Terkait ancaman resesi di Tanah Air, Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Tauhid Ahmad mengungkapkan bahwa Indonesia akan mengalami resesi yang cukup dalam. Ia memperkirakan pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal III 2020 minus 1,3 persen sampai minus 1,5 persen.

Baca juga: Tambah Income di Tengah Pandemi Covid-19, ini Sederet Caranya!

“Meski lebih baik dibandingkan triwulan kedua, kami perkirakan minus 4 persen dan triwulan ketiga minus 1,3 sampai minus 1,5,” ujarnya dalam sebuah diskusi, seperti dilansir Liputan6.com.

Prediksi ini, kata Tauhid, berdasarkan asumsi realisasi program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) jika masih di bawah 30 persen dalam jangka waktu 5 bulan.

Sementara itu, Menteri Keuangan RI Sri Mulyani memproyeksikan jika Indonesia mampu lolos dari jerat resesi dengan mencetak pertumbuhan ekonomi positif pada 2020. Ia optimis pertumbuhan ekonomi pada kuartal III 2020 bisa bangkit positif sebesar 0,4 persen dan diikuti pertumbuhan sebesar 2 persen hingga 3 persen pada kuartal IV 2020. Dengan begitu, rata-rata pertumbuhan ekonomi sepanjang 2020 masih di atas nol persen.

Meski demikian, proyeksi optimistis tersebut ia buat dengan catatan penanganan covid-19 di dalam negeri telah terkendali pada paruh kedua 2020. Dengan tingginya ketidakpastian global, Sri Mulyani tak menutup kemungkinan jika proyeksinya itu akan mengalami revisi mengikuti perkembangan penanganan pandemi ini. Demikian dikutip dari CNN Indonesia.

Baca juga: Stres di PHK Akibat Pandemi Covid-19, ini Cara Tepat untuk Mengatasinya!

“Yang mempengaruhi perekonomian kita sendiri sangat tergantung pada penanganan covid semester kedua, kuartal III dan IV. Kalau penanganannya efektif dan berjalan seiring dengan pembukaan aktivitas ekonomi, maka kondisi ekonomi bisa recover (pulih),” jelas menteri yang akrab disapa Ani ini.

Bagaimana upaya pemerintah?

Dikutip dari BBC News Indonesia, pemerintah mengaku telah menyiapkan langkah untuk mengantisipasi resesi. Dikatakan Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan, Febrio Nathan Kacaribu, pemerintah akan memfokuskan program PEN pada kuartal ketiga dan keempat demi mengurangi dampak negatif terhadap masyarakat.

“Jadi memang kalau kita lihat tanda-tandanya di Q2 itu memang sangat dalam. Sejauh ini, Kementerian Keuangan memprediksi itu berada di minus 4,3%,” kata Febrio.

Kendati begitu, Febrio juga menuturkan bahwa pelonggaran Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) sejak pertengahan Juni lalu mulai mendorong aktivitas perekonomian. Karenanya, ia melihat bahwa ada peluang untuk mengembalikan laju perkembangan ekonomi tahun ini dan keluar dari zona minus, terutama melalui program pemulihan.

Lantas, apa yang harus dilakukan masyarakat untuk mengantisipasi jika resesi benar-benar terjadi di Indonesia?

Ekonom INDEF Bhima Yudhistira menyarankan agar masyarakat berhemat untuk menyiapkan dana darurat selama masa resesi. Pasalnya, tak ada yang tahu sampai kapan resesi akan berlangsung.

“Kurangi juga belanja yang tidak sesuai kebutuhan dan fokus pada pangan serta kebutuhan kesehatan. Jadi jangan latah ikut gaya hidup yang boros. Pandemi mengajarkan kita apa yang bisa dihemat ternyata membuat daya tahan keuangan personal lebih kuat,” pungkas Bhima, seperti dilansir Detik.com.

Baca juga: Siaran Pers: Di Tengah Pandemi Covid-19, Danain Dapat Kepercayaan dari Bank Sahabat Sampoerna

Hal senada juga diungkapkan oleh Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Piter Abdullah. Menurut dia, di saat seperti ini, masyarakat harus hemat dan perlu mempersiapkan kondisi terburuk untuk mencukupi finansial.

“Tetap harus berjaga-jaga mempersiapkan kondisi terburuk, yaitu apabila resesi ini berkepanjangan. Ini perlu stamina yang kuat, termasuk juga tabungan yang cukup. Jangan Boros,” tegasnya.

Untuk diketahui, jika resesi benar terjadi, akan ada penurunan yang signifikan dalam hal aktivitas ekonomi. Yang paling mudah dirasakan sebut saja menurunnya jumlah lapangan kerja yang tercipta. Beberapa waktu lalu, Wakil Direktur INDEF Eko Listiyanto pernah berujar, saat resesi ekonomi terjadi, maka akan ada ledakan pengangguran dan bertambahnya orang miskin.

Bagaimana, siap menghadapi resesi dengan langkah di atas?