“Agak aneh menjadi orang tua dari anak-anak yang terkenal, bahkan hingga menempatkan foto keluarga sebagai sampul di sebuah majalah,” ujar Esther Wojcicki.

Siapa dia?

Esther merupakan ibu dari tiga orang anak yang sukses di berbagai bidang, yakni Susan (CEO YouTube), Janet (Profesor Pediatri), dan Anne (CEO 23andMe). Ia mengatakan, ketiga anaknya berhasil meraih puncak karier yang sangat kompetitif, di mana didominasi oleh kaum pria.

Meski demikian, ia tak pernah mengklaim bahwa semua yang telah diraih oleh anak-anaknya tersebut merupakan campur tangannya. Ia yakin bahwa ketiga anaknya memang punya talenta yang luar biasa, sehingga bisa berhasil seperti sekarang.

Esther juga mengaku, banyak orang tua yang meminta nasihat dari dirinya tentang bagaimana cara mendidik anak-anak agar bisa sukses. Kata dia, melalui pengalaman selama puluhan tahun sebagai seorang ibu, nenek, sekaligus pendidik, ia telah mengidentifikasi beberapa nilai dasar yang bisa membantu seorang anak mencapai kesuksesan.

Baca juga: Ini 3 Mitos tentang Kesuksesan yang Masih Diyakini Banyak Orang, Berhenti Percaya!

Salah satu dari nilai tersebut adalah kebaikan. Menurut Esther, itulah satu hal yang seringkali gagal diajarkan oleh orang tua kepada anak-anak mereka.

Berikut beberapa poin lainnya:

Ajari anak untuk peduli

Agar anak bisa sukses, ajarilah mereka untuk peduli dengan lingkungan sekitarnya. Hal seperti ini tentu harus dimulai dari orang tua, sehingga anak-anak bisa mencontoh perilaku tersebut dan secara tak langsung akan menjadi sebuah kebiasaan.

“Semua ini memengaruhi anak-anak saya. Bukan karena saya memberikan kuliah kepada mereka tentang pentingnya melayani masyarakat, akan tetapi karena saya memang benar-benar peduli,” terang Esther.

Ditambahkan Esther, ia selalu menunjukkan kepada sang anak melalui tindakan yang bisa mereka capai. Dengan begitu, anak-anak akan belajar bertanggungjawab dengan apa yang mereka lakukan.

Pentingnya komunitas

Setelah mengajarkan kepedulian, ajarkan pula sang anak tentang pentingnya komunitas. Menurut studi tahun 2013 lalu, remaja atau anak-anak muda yang menjadi sukarelawan mengalami penurunan suasana hati negatif dan risiko kardiovaskular. Sementara studi lain yang dihelat tahun 2016 menyebutkan, remaja yang melakukan pekerjaan sukarela secara signifikan lebih kecil kemungkinannya untuk terlibat dalam perilaku ilegal.

Namun, pertanyaannya, berapa banyak dari kita orang tua yang memikirkan hal ini ketika mengasuh anak? Berapa banyak dari kita yang menekankan pentingnya komunitas?

“Menyedihkan untuk dikatakan. Tapi, saya perhatikan, semakin banyak anak yang benar-benar fokus pada diri mereka sendiri. Ke mana mereka ingin kuliah, liburan, atau barang-barang apa yang ingin mereka beli. Rasanya seperti kita melatih sebuah negara dan dunia yang narsis. Saya menganggap, pola asuh orang tua yang banyak mengatur memainkan peran besar dalam hal ini,” ungkap Esther.

Baca juga: 8 Tanda Anda akan jadi Orang Sukses, Namun Jarang Disadari!

Hindari pola pikir uang adalah segalanya

Anak-anak tumbuh dengan perasaan seolah-olah mereka adalah pusat alam semesta. Sebagai orang dewasa muda, mereka tidak hanya kurang mandiri, tapi juga tidak siap untuk membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik.

Mereka cenderung fokus pada uang, sebab mereka pikir uang akan membuat bahagia dan puas. Mereka beranggapan, jadilah kaya dan jangan lakukan apa-apa. Duduklah di pantai. Pergi makan malam yang mahal. Pergi ke las Vegas. Perlu dipahami, anggapan tersebut salah besar, karena hal itu bisa jadi masalah di kemudian hari.

Esther menuturkan, ada beberapa orang di Silicon Valley yang khawatir tentang diri mereka sebelum orang lain. Mereka tidak memprioritaskan kebaikan komunitas, mereka tak berjuang untuk tujuan sosial, dan mereka tidak mengejar kehidupan yang penuh makna dan tujuan.

Akibatnya, kata Esther, mereka sering berakhir dengan terisolasi dan tertekan. “Saya telah bertemu dengan banyak jutawan bahkan miliarder yang tidak bahagia. Banyak dari mereka yang mungkin memulai masa kanak-kanak tanpa arah,” jelasnya seperti dilansir CNBC.

Ajarkan berbagi

Banyak orang yang mengejar uang dan harta benda, bukan layanan, bukan tujuan. Tapi, perlu diketahui, satu hal yang sebenarnya membuat bahagia adalah jika kita bisa melakukan sesuatu untuk membantu orang lain alias berbagi.

Agar anak bisa sukses di kemudian hari, ajarilah mereka untuk berbagi sejak dini, terutama bagi orang-orang sekitar. Dengan begitu, mereka bisa belajar lebih peka terhadap orang di sekelilingnya.

Itulah beberapa poin yang disampaikan Esther selaku orang tua dari tiga anak yang telah sukses di bidangnya masing-masing. Jika Anda ingin memiliki anak yang juga sukses seperti mereka, tak ada salahnya untuk mengikuti beberapa tips tadi sebagai panduan dalam mendidik anak.

Di sisi lain, Anda juga harus mengajarkan anak untuk cerdas finansial sejak dini. Kenapa demikian? Sebab salah satu kunci sukses adalah harus pintar mengelola keuangan. Dengan memberikan pemahaman tentang keuangan sejak masih kecil, bukan tak mungkin anak Anda akan bisa meraih kebebasan finansial ketika dewasa kelak. Ingin tahu lebih lengkap tentang kebebasan finansial. Baca: Ingin Raih Kebebasan Finansial? Intip Caranya Melalui Buku Rich Dad Poor Dad Karya Kiyosaki Ini!