Nama Reed Hastings sudah tak asing di telinga para pebisnis di berbagai penjuru dunia. Ia merupakan pendiri raksasa hiburan Netflix dengan kekayaan mencapai 5 miliar dolar AS.

Saat ini, Hastings tengah menikmati buah kerja kerasnya bersama perusahaan berskala internasional tersebut. Kehidupannya begitu nikmat dan sangat menarik untuk diperbincangkan.

Berikut kami beberkan sederet fakta menarik pendiri Netflix yang berhasil terungkap ke permukaan, sebagaimana dilansir Business Insider:

Lahir di Boston

Hastings lahir di Boston pada tahun 1960. Sang ayah, Wilmot Reed Hastings, bekerja di Departemen Kesehatan, Pendidikan, dan Kesejahteraan, di bawah Presiden Richard Nixon.

“Kami berkeliling dengan kereta golf, melakukan tur, dan melihat Presiden Nixon punya dudukan toilet berwarna emas,” kenang Hastings kepada The Times pada 2006 lalu.

Setelah lulus SMA, Hastings sempat bekerja selama setahun sebagai sales penyedot debu dari pintu ke pintu, sebelum akhirnya meraih gelar sarjana dari Universitas Stanford. “Saya gagal tembus di pilihan pertama, yakni Massachusetts Institute of Technology,” tambahnya.

Netflix bukan perusahaan pertama Hastings

Saat berusia 31 tahun, Hastings bersama Raymond Peck dan Mark Box meluncurkan Pure Software pada tahun 1991. Perusahaan tersebut sangat sukses dan berhasil melipatgandakan pendapatannya setiap tahun sebelum go public pada tahun 1995. Pada 1997, Hastings menjualnya seharga 750 juta dolar AS. 

Ide membangun Netflix dari pengalaman buruk

Hastings pernah didenda 40 dolar AS atas keterlambatannya mengembalikan video yang disewa. “Saya terlambat mengembalikan enam minggu. Itu salah saya. Belakangan, dalam perjalanan menuju tempat gym, saya menyadari bahwa mereka memiliki model bisnis yang jauh lebih baik,” jelasnya. 

Baca juga: Melanie Perkins, Miliarder Termuda di Negeri Kanguru!

Faktor itulah yang mendasari Hastings akhirnya mendirikan Netflix bersama Marc Randolph pada tahun 1997.

Di tahun pertama, Netflix berhasil menggaet pelanggan sebanyak 239 ribu orang. Menariknya, para pelanggan bisa menyimpan film sewaannya itu sesuka hati tanpa ada biaya keterlambatan.

Netflix jadi salah satu perusahaan teknologi paling kuat di Amerika

Netflix go public pada tahun 2002, dan saham perusahaan mencapai titik tertingginya pada tahun 2011 lalu. Namun sayang, saham Netflix tak lama harus tergelincir 75 persen akibat kebijakan Hastings yang memisahkan biaya langganan DVD berbayar dengan bisnis streaming yang saat itu masih tergolong muda.

Kendati begitu, basis pelanggan Netflix perlahan mulai pulih berkat konten orisinilnya yang mendapat banyak pujian. Dan saat ini, raksasa hiburan tersebut mengklaim telah memiliki 193 juta keanggotaan berbayar dari berbagai penjuru dunia.

Berlibur enam pekan setiap tahun

Dalam mengelola bisnis, Hastings berbagi tanggung jawab dengan sesama eksekutif di Netflix, Ted Sarandos. Ia pun membiarkan Netflix berjalan seperti biasa tanpa perlu dikekang.

“Orang luar biasa tak ingin diatur secara mikro. Kami mengelola melalui pengaturan konteks dan membiarkan orang berlari,” ungkapnya kepada Forbes.

Baca juga: Miliarder Muda Tanner Chidester: Menabung adalah Cara Lambat Menuju Kaya!

Sebagai bagian dari strateginya itu, Hastings mengaku bahwa ia sering mengambil waktu liburan selama enam minggu setiap tahunnya. Kata dia, ”Saya sering berlibur dan saya terbuka secara internal. Seperti yang diketahui, kita sering mendapat pemikiran terbaik saat pergi mendaki gunung atau yang lainnya, dan kita bisa mendapat perspektif yang berbeda saat melakukannya.”

Kekayaannya terus bertambah

Kekayaan Hastings terus tumbuh seiring harga saham Netflix yang terus menanjak. Pada 2017 lalu, Hastings masuk dalam jajaran orang terkaya di Amerika versi Forbes. Kekayaannya ditaksir mencapai 5 miliar dolar AS.

Hastings dan sang istri Patty Quillin tinggal di Santa Cruz dan memiliki dua anak. Uniknya, Hastings mengaku tak punya hobi untuk mengisi waktu luangnya.

“Sayangnya dan anehnya, saya hampir tidak punya hobi. Saya tidak berlayar dan memancing. Saya adalah orang Renaisans yang gagal dan menyedihkan,” pungkasnya.

Meski begitu, Hastings adalah sosok penyayang binatang. Ia diketahui punya empat ekor anjing, empat kambing kerdil Nigeria, dan 10 ekor ayam.

Habiskan jutaan dolar untuk filantropi

Pada 2012, Hastings dan Quillin menandatangani The Giving Pledge, sebuah pakta yang mengamanatkan para miliarder untuk memberikan sebagian besar kekayaannya untuk amal. 

Baca juga: Ingin Sukses Seperti Miliarder? 5 Cara Berpikir ini harus Kamu Miliki!

“Sebuah kehormatan bisa membantu komunitas, negara, dan planet kita melalui filantropi. Kami sangat senang dapat bergabung dengan orang-orang beruntung lainnya untuk menjaminkan sebagian besar aset kami untuk diinvestasikan pada orang lain. Melalui komunitas ini, kami berharap bisa belajar sambil berjalan dan melakukan yang terbaik untuk membuat perubahan positif bagi banyak orang,” terang Hastings.

Sebagian besar kegiatan amal Hastings ditujukan untuk dunia pendidikan. Pada tahun ini saja, ia telah memberikan 120 juta dolar AS untuk mendanai beasiswa bagi siswa kulit hitam melalui kemitraan dengan dua perguruan tinggi. Tak hanya itu, ia juga mendanai kamp pelatihan mewah untuk para guru di Colorado.