Nama Melanie Perkins jadi sorotan pemberitaan dunia belakangan ini. Pengusaha kelahiran Perth tersebut dikabarkan jadi miliarder termuda di Negeri Kanguru.

Perkins, yang saat ini berusia 32 tahun merupakan CEO sekaligus Co-founder sebuah platform desain grafis online bernama Canva. Menurut kabar, kekayaannya melonjak drastis selama masa pandemi ini, mengingat banyak orang yang mulai bekerja dari rumah dan menggunakan layanan tersebut.

Canva adalah sebuah aplikasi gratis yang memungkinkan pengguna bisa membuat grafik dengan sangat mudah. Bagi pemula, aplikasi ini sangat menarik karena tak perlu memiliki keahlian khusus.

Perkins mendirikan bisnis grafis digital ini pada tahun 2014 silam, bersama tunangannya yang bernama Cliff Obrecht. Saat ini, keduanya sudah menikah dan dianggap sebagai salah satu pasangan kuat dalam industri teknologi.

Mengutip ibtimes.com, kekayaan bersih Perkins diperkirakan telah mencapai angka 1,3 miliar dolar AS dan itu menjadikannya sebagai wanita terkaya ketiga di Australia. Sementara itu, posisi pertama diisi oleh pengusaha tambang Gina Rinehart dengan total kekayaan 16,5 miliar dolar AS, diikuti oleh Vicky Teoh dari TPG Telecom di urutan kedua.

Dalam kariernya, Perkins pernah dinobatkan sebagai salah satu orang paling keren di bidang teknologi pada tahun 2016 silam. Wanita berdarah Filipina-Australia ini juga berhasil mendapat perhatian dari aktor Hollywood Woody Harrelson dan Owen Wilson ketika awal mula Canva berdiri.

Baca juga: Kerap Merugi, Bagaimana Sebenarnya Cara Startup Mendapatkan Keuntungan?

Di tahun 2020, Canva berhasil mendapat dukungan dari perusahaan modal ventura Mary Meeker yang mengakibatkan valuasinya meningkat dua kali lipat. Tak hanya itu, Canva juga mendapat suntikan dana sebesar 60 juta dolar AS dari Australia Blackbird dan Sequioa China.

Selama pandemi covid-19, menurut data, pengguna bulanan Canva telah meningkat jadi 15 juta orang dan 50.000 sekolah. Dengan diterapkannya pembelajaran jarak jauh, tenaga pengajar bisa mengandalkan Canva untuk urusan visual dan grafik.

Secara garis besar, bisnis digital seperti ini memang tengah berkembang selama masa pandemi. Beda halnya dengan perusahaan yang belum bermigrasi ke ranah digital, di mana sebagian besar mereka mengalami kemunduran. Selain Canva, bisa dilihat jika Zoom juga merajai industri ini, sedangkan Amazon dan Facebook tetap berada di peringkat teratas.

Perkins sangat optimis dengan bisnis yang ia jalankan. Kepada The Australian awal tahun lalu, ia berujar, “Kami memiliki dua rencana yang sederhana. Pertama, untuk membangun salah satu perusahaan paling berharga di dunia, dan kedua, ingin melakukan yang terbaik yang kami bisa. Saya berharap dengan kesempatan yang diberikan ini, kami dapat menggunakannya untuk membawa kesetaraan yang lebih besar kepada dunia.”

Baca juga: 9 Fakta Menarik Zhang Yiming, Bos TikTok yang jadi Miliarder Muda di Negeri Tirai Bambu!

Di sisi lain, Perkins percaya pada keseimbangan antara kehidupan dan pekerjaan. Di Canva, para karyawan disuguhkan dengan kelas kebugaran dan yoga reguler secara online. Perusahaan juga menawarkan musik dan komedi malam online untuk karyawannya yang berada di luar negeri. Yang tak kalah penting, Canva juga telah membantu 25.000 organisasi nirlaba.

Dengan visi yang jelas dan gaya kepemimpinan yang modern, para ahli mengutarakan pendapatnya terkait Canva. Mereka sepakat bahwa Canva diproyeksikan menjadi lebih besar di luar masa pandemi nanti.