Gempuran iklan telah merangsek ke berbagai tempat, seperti di media cetak, radio, televisi, hingga internet. Para pembuat iklan rela menggelontorkan banyak uang setiap tahunnya untuk meyakinkan masyarakat bahwa produk yang dijajakan bisa membuat seseorang merasa sukses, mampu mencegah kebosanan, menarik lawan jenis, dan lain sebagainya – meskipun sebenarnya belum tentu dibutuhkan.

Nah, dengan iklan yang dirancang cermat untuk memanipulasi kebiasaan belanja masyarakat, tak heran jika saat ini begitu banyak orang jadi emotional spenders alias pembelanja emosional.

Apa itu Emotional Spending?

Pengeluaran emosional terjadi saat kamu membeli sesuatu yang tak dibutuhkan, bahkan tak diinginkan – sebagai akibat dari perasaan yang tertekan, bosan, tidak bahagia, atau sejumlah emosi lainnya. Tak hanya itu, seseorang juga bisa jadi pembelanja emosional ketika dirinya merasa bahagia.

Secara garis besar, tak ada salahnya membeli barang bagus untuk diri sendiri, selama kamu mampu membelinya dan keuangan juga mendukung. Akan tetapi, tak bisa dibenarkan apabila kamu menghabiskan uang lebih banyak untuk keinginan daripada kebutuhan.

Berikut beberapa langkah yang bisa kamu lakukan untuk mengontrol emotional spending, sebagaimana dilansir Investopedia:

Hindari pembelian impulsif

Salah satu cara untuk menekan pengeluaran emosional adalah dengan menghindari dorongan membeli. Jika kamu ingin sesuatu yang sebenarnya tak dibutuhkan di sebuah toko fisik atau online, cobalah untuk tak langsung membelinya. Tunggu hingga 24 jam atau lebih, sebelum mengambil keputusan. Biasanya, kamu akan melupakan begitu saja ketika meninggalkan toko atau menutup browser.

Baca juga: 5 Langkah Sederhana untuk Tekan Pengeluaran di Tahun 2020

Jika setelah 24 jam keinginan itu masih ada, tapi di saat bersamaan hati kecil kamu mengatakan itu belum dibutuhkan, cobalah untuk kembali menundanya hingga seminggu atau sebulan ke depan – sehingga kamu bisa berpikir lebih jernih tentang keputusan yang akan diambil.

Jika cara itu membantu, buatlah daftar keinginan yang telah kamu tunda waktu pembeliannya. Kamu bisa membeli barang-barang tersebut di momen khusus, seperti saat ulang tahun atau ketika kamu memang telah mampu membelinya.

Jauhi atau batasi paparan iklan

Batasi diri kamu dari paparan iklan secara sengaja. Makin sedikit kamu mengetahui apa yang bisa kamu beli, maka makin kecil pula potensi kamu melakukan pembelanjaan emosional.

Hentikanlah pengiriman katalog produk di kotak surat atau email kamu, dan jika emosi belanja kamu memang cukup parah, pertimbangkan pula untuk berhenti berlangganan majalah atau koran yang notabene banyak mencantumkan iklan. Yang tak kalah penting, cegah diri kamu dari penawaran kartu kredit atau asuransi yang tak diperlukan.

Baca juga: Hati-hati, 10 Pengeluaran tak ‘Berguna’ ini Bisa Kuras Tabungan Kamu!

Batasi godaan

Cara lain yang bisa kamu lakukan adalah membatasi diri dari situasi yang bisa menggoda untuk berbelanja. Misal: Jika godaan itu ada di mal, cobalah untuk batasi bepergian ke tempat tersebut. Atau jika masalahnya ada di belanja online, berusahalah untuk tak membuka situs belanja dan beralih ke aktivitas lain, seperti membaca berita atau bermain games.

Sementara itu, jika keinginan belanja kamu selalu muncul saat kamu berada di dekat teman atau kerabat tertentu, cobalah untuk melakukan aktivitas lain yang murah dan menyenangkan dengan orang tersebut. Kamu bisa berolahraga bareng atau berjalan-jalan di taman kota, misalnya.

Buat diri bertanggung jawab

Bertanggung jawablah pada setiap pengeluaranmu. Kamu bisa minta bantuan dari orang terdekat untuk mengontrol pengeluran emosionalmu. Katakan pada mereka bahwa kamu sedang menghemat pengeluaran. Minta mereka menegur jika melihatmu ingin melakukan pembelian impulsif.

Langkah lainnya, buatlah daftar prioritas keuangan dan letakkan pada tempat yang sering dijangkau, seperti pintu kulkas atau cermin di kamar mandi. Letakkan pula di dalam dompet, sehingga tiap kali kamu ingin belanja, kamu akan berpikir dua kali sebelum memutuskannya.

 Baca juga: Hati-hati, 3 Pengeluaran ‘Bodoh’ ini Bikin Generasi Milenial Sulit Kaya!

Cari kegiatan alternatif

Jika kamu sering menggunakan belanja sebagai bentuk hiburan atau pengalih perhatian, cobalah untuk mengidentifikasi apa yang dirasakan ketika ingin membeli sesuatu dan pilihlah perilaku yang lebih konstruktif yang bisa membantu kamu menghadapi emosi tersebut.

Contoh: Jika kamu mengalami hari yang buruk di tempat kerja dan ingin memanjakan diri dengan sesuatu yang menyenangkan, hubungilah satu atau dua temanmu. Jika merasa stres, cobalah untuk berolahraga. Atau jika kamu memang benar-benar ingin belanja, belilah sesuatu yang sederhana dan tidak mahal. Tapi ingat, jangan lakukan setiap saat, sebab pembelanjaan kecil itu tetap mengeluarkan uang.

 

Perlu diketahui, tujuan dari tulisan ini bukanlah untuk menghentikan pembelian yang menyenangkan. Jika kamu tak pernah membeli hal-hal yang menyenangkan, kehidupanmu mungkin akan sangat membosankan.

Tapi, inti dari semua ini, dengan kamu menyadari kebiasaan belanjamu, kamu akan mengembangkan kontrol yang lebih besar atas keuangan dan ke depannya, kamu akan benar-benar menikmati pembelian yang dilakukan tanpa rasa takut dan bersalah.