Tak dipungkiri, setiap investasi pasti memiliki risiko. Risikonya pun bervariasi. Ada risiko gagal bayar (yang paling ditakuti investor), risiko suku bunga, risiko likuiditas, risiko inflasi, dan masih banyak lagi.

Dalam kesempatan ini, kami akan mengulas risiko inflasi yang kerap menghantui para investor.

Secara garis besar, inflasi dapat diartikan proses kenaikan harga secara umum dan terus menerus berkaitan dengan mekanisme pasar. Ada banyak faktor yang jadi pemicu terjadinya inflasi. Beberapa di antaranya adalah meningkatnya konsumsi masyarakat, berlebihnya likuiditas di pasar, serta tidak lancarnya distribusi barang.

Inflasi sendiri terbagi atas beberapa tingkatan. Ada yang rendah, sedang, bahkan parah. Pertanyaannya, adakah sisi positif yang bisa diambil dari terjadinya inflasi? Jawabannya, ada.

Jika inflasi tergolong rendah, hal itu justru berdampak positif dalam mendorong perekonomian. Pendapatan nasional akan meningkat. Masyarakat akan makin semangat untuk bekerja, menabung, bahkan berinvestasi.

Sebaliknya, jika inflasi parah, perekonomian nasional secara otomatis akan kacau. Jangankan untuk menabung atau investasi, untuk bekerja saja masyarakat tidak bersemangat. Itu semua dipicu karena nilai mata uang menurun dan harga-harga meroket dengan cepat.

Inflasi akan menguntungkan bagi orang yang meminjam uang di lembaga pembiayan, seperti bank. Kenapa bisa? Ketika membayar utang ke bank, nilai mata uang sejatinya sudah lebih rendah dibanding saat mereka melakukan peminjaman. Hal tersebut tentu tidak berlaku bagi kreditur alias pemberi pinjaman. Dalam kondisi ini, kreditur akan dirugikan karena nilai mata uang lebih rendah saat pengembalian.

Bagi seorang investor, baik yang bermain di saham, reksa dana, atau deposito, inflasi tentu saja akan menggerus nilai mata uang yang diinvestasikan. Bunga yang diberikan oleh investasi tersebut umumnya tidak mampu untuk mencukupi kenaikan biaya hidup.

Apa yang harus dilakukan seorang investor agar investasinya aman dari inflasi?

Investor bisa melakukan diversifikasi investasi. Selain mampu meminimalisir risiko investasi, diversifikasi juga berpotensi besar meningkatkan keuntungan dalam berinvestasi.

Dalam hal ini, investor bisa mencoba berinvestasi di P2P Lending. Perusahaan P2P Lending biasanya memberikan bunga lebih besar dibanding bunga yang diberikan jenis investasi lain.

Baca juga: Ini Dia, Keunggulan P2P Lending Ketimbang Reksa Dana dan Deposito

Dengan berinvestasi di P2P Lending, kerugian investasi akibat inflasi sejatinya bisa diminimalisir. Selain itu, keuntungan yang diperoleh juga bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan di masa depan.

Ada satu fakta menarik lain yang juga perlu Anda ketahui. Tahun lalu, Inggris sempat mengalami inflasi yang tinggi. Bahkan, inflasi tersebut dinilai yang paling tinggi sejak tahun 2012 silam. Kondisi itu tentu jadi berita buruk bagi nasabah bank dan para investor di sana. Banyak dari mereka yang mencari alternatif keuangan lain untuk mengejar laju inflasi. Untuk meningkatkan keuntungan, sebagian dari mereka memilih berinvestasi di P2P Lending. Dari kasus tersebut, kita bisa melihat bahwa P2P Lending memang menjawab kebuntuan saat inflasi terjadi.

Lantas, amankah tetap berinvestasi saat kondisi ekonomi di Indonesia seperti saat ini, di mana nilai tukar rupiah cenderung melemah terhadap dolar?

Aman-tidaknya investasi pada dasarnya tergantung pada keyakinan dan pandangan masing-masing investor. Namun, satu hal yang perlu dipahami, dan seperti yang sudah disampaikan di atas tadi, investasi P2P Lending sejatinya menawarkan imbal hasil yang lebih tinggi dibanding jenis investasi lain. Bahkan, ada P2P Lending yang menawarkan imbal hasil mencapai 120% per tahun, seperti Danain!

Baca juga: Dukung Program Inklusi Keuangan, Danain Ajak Masyarakat Menabung di P2P Lending!

Keuntungan lainnya, tenor investasi di Danain tergolong singkat, maksimal empat bulan. Dari sisi keamanan, Danain mengharuskan pihak peminjam menyerahkan agunan berupa perhiasan emas atau logam mulia ke PT Mas Agung Sejahtera (PT MAS) selaku mitra. Jika peminjam tidak melunasi pinjaman dalam tempo maksimal empat bulan, mitra akan tetap melakukan pengembalian pokok dan bunga kepada pendana tanpa potongan. Jadi, risiko berinvestasi di Danain bisa dibilang hampir tidak ada.

Ayo lawan inflasi dengan investasi di Danain! “Aman dengan jaminan, dana pasti berkembang”