Istilah diversifikasi pasti sudah tak asing di telinga para investor. Begitu pun dengan prinsip investasi “Don’t put your eggs in one basket” alias “Jangan pernah letakkan telur-telur dalam satu keranjang”.

Secara garis besar, diversifikasi investasi dapat diartikan sebagai penyebaran atau penganekaragaman jenis investasi yang dilakukan investor. Manfaat diversifikasi investasi sendiri terbagi menjadi dua. Pertama, mampu meningkatkan keuntungan karena semakin banyak instrumen investasi. Kedua, sanggup meminimalisir risiko dalam investasi.

Sejumlah pakar memang menyarakan agar jangan pernah menempatkan dana investasi dalam satu jenis instrumen investasi saja. Pasalnya, jika satu instrumen investasi jatuh, secara otomatis dana yang Anda miliki juga akan menurun.

Lain halnya jika Anda melakukan diversifikasi investasi. Bila  suatu saat salah satu investasi Anda jatuh, Anda masih punya cadangan investasi di tempat lain yang diharapkan mampu menopang investasi Anda agar nilainya tidak jatuh secara keseluruhan.

Meski diversifikasi investasi disarankan, bukan berarti Anda bisa melakukannya dengan sembarangan. Tetaplah melihat tujuan, risiko, dan perbanyak pengetahuan tentang instrumen investasi yang dipilih. Jangan pula mudah tergiur dengan iming-iming investasi yang menjanjikan untung besar, sebab mungkin saja investasi tersebut abal-abal alias ilegal.

Dalam hal risiko, ada baiknya untuk kenali terlebih dahulu profil Anda sebagai investor. Ketahuilah sejauh mana kemampuan dan keberanian Anda untuk kehilangan dana dalam proses investasi.

Setidaknya, ada tiga tipe investor dari segi risiko. Pertama, investor yang berani ambil risiko kehilangan seluruh uangnya untuk dapat hasil yang lebih besar. Kedua, investor yang punya pengetahuan cukup terhadap investasi, tapi toleransinya hanya sebatas kehilangan sebagian kecil dana investasi. Ketiga, investor yang sama sekali tidak ingin kehilangan uangnya.

Selain itu, Anda juga harus pertimbangkan time horizon sebelum melakukan diversifikasi. Hal ini berkaitan dengan tujuan investasi, di mana Anda harus mengetahui kapan hasil investasi akan Anda gunakan. Apakah jangka pendek atau jangka panjang.

Jika saat ini Anda tengah berinvestasi saham, deposito, reksa dana, emas, atau properti, tak ada salahnya untuk mulai melakukan diversifikasi investasi di P2P Lending. Selain mudah untuk dilakukan, investasi di sektor ini juga menawarkan keuntungan yang menjanjikan.

Masing-masing investasi memang memiliki keunggulan dan kelemahan tersendiri, begitu pun dengan karakteristiknya. Misal:

Saham. Dengan risiko tinggi, investasi jenis ini membutuhkan keahlian analisa dan pengalaman yang mumpuni dalam menjalankannya. Bunga yang diberikan pun bersifat fluktuatif. Kelemahan lainnya, tidak ada jaminan dari Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).

Deposito. Risiko investasi tergolong kecil. Pendanaan dijamin oleh LPS hingga dua miliar. Meski begitu, bunga yang diberikan deposito terbilang rendah, berkisar 4-5% per tahun. Selain itu, ada biaya administrasi dan potongan pajak sebesar 20%.

Reksa dana. Keunggulan reksa dana meliputi, keuntungan tinggi (bisa mencapai 20%), diversifikasi risiko karena uang disebar ke berbagai instrumen, dikelola manajer investasi profesional, jumlah minimum investasi rendah, dan pengambilan dana yang fleksibel. Sementara kelemahannya, terdapat biaya investasi yang berimbas pada return yang diterima, imbal hasil fluktuatif, kehilangan kontrol dalam keputusan investasi, dan wanprestasi manajer investasi.

Emas. Investasi emas punya beberapa kelebihan, seperti tahan terhadap inflasi, harga cenderung naik dari tahun ke tahun, mudah untuk diuangkan kembali, serta bebas pajak. Sedangkan kelemahannya adalah risiko hilang cukup tinggi, terlebih jika emas berbentuk perhiasan yang dipakai sehari-hari. Selain itu, investasi emas juga tidak cocok untuk jangka pendek.

Properti. Investasi di sektor properti punya risiko tergolong rendah. Keuntungan yang ditawarkan pun sangat tinggi. Investasi jenis ini cenderung diminati oleh pemilik modal besar, karena dapat dilihat secara fisik dan bisa dijadikan sebagai agunan. Kelemahannya, biaya perawatan properti dan biaya transaksi terbilang mahal, serta rawan jika terjadi bencana alam.

Bagaimana dengan P2P Lending?

Skema investasi di P2P Lending sangat berbeda dengan beberapa investasi yang disebutkan di atas tadi. P2P Lending merupakan penyelenggara layanan keuangan yang mempertemukan pemberi pinjaman dan orang yang butuh pinjaman. Secara garis besar, P2P Lending sangat cocok bagi investor yang baru atau ingin melakukan diversifikasi investasi. Alasannya sederhana. Investasi di P2P Lending sangat minim risiko.

Dari sekian banyak platform P2P Lending yang tersedia saat ini, Danain bisa jadi pilihan tepat bagi Anda yang ingin melakukan diversifikasi investasi. Danain bisa memberikan imbal hasil mencapai 120% per tahun, minimal 8% per tahun.

Danain juga merupakan P2P Lending pertama di Indonesia yang menggunakan agunan perhiasan emas atau logam mulia. Di sini, aset yang diagunkan peminjam punya nilai lebih besar dibanding jumlah pinjaman yang diajukan.

Jangka waktu investasi di Danain juga tergolong singkat, maksimal empat bulan. Fakta menarik yang perlu Anda ketahui, modal dan keuntungan sudah bisa dinikmati oleh pendana dalam hitungan hari, dengan catatan pihak peminjam sudah melakukan pelunasan.

Bagaimana jika peminjam gagal bayar?

Danain bekerjasama dengan salah satu perusahaan pergadaian swasta terbesar di Indonesia, PT Mas Agung Sejahtera (PT MAS). Jika peminjam tidak melunasi pinjamannya dalam tempo maksimal empat bulan, PT MAS akan tetap mengembalikan pokok dan bunga kepada pendana tanpa potongan.

Setelah melakukan diversifikasi, langkah selanjutnya yang harus Anda lakukan adalah memantau kinerja investasi tersebut. Agar nilai investasi Anda terus meningkat, Anda juga bisa menginvestasikan kembali imbal hasil yang telah diterima menggunakan fitur autobid yang tersedia.


Lihat selengkapnya mengenai investasi di Danain disini