Blog

Ketahui Definisi dan Contoh Utang Jangka Panjang

danain-Contoh utang jangka panjang bisa ditemui dengan mudah dalam operasional perusahaan yang sudah berskala besar. Apa saja contohnya? Berdasarkan tanggal jatuh tempo, utang terbagi ke dalam dua jenis yang meliputi: utang jangka pendek dan jangka panjang. Sesuai namanya, utang jangka pendek adalah kewajiban yang harus dibayar oleh perusahaan dalam kurun waktu kurang dari 1 periode akuntansi atau di bawah 1 tahun. Sedangkan utang jangka panjang adalah kebalikannya, di mana kewajiban ini harus dilunasi dalam kurun waktu lebih dari 1 periode akuntansi atau di atas 1 tahun. Contoh utang jangka pendek dapat dengan mudah kita temui, mulai dari utang dagang, utang dividen, utang jasa, pembayaran diterima di muka, dan lain sebagainya. Nah, pada artikel kali ini, kami akan memberikan pembahasan terkait contoh utang jangka panjang yang sering ditemukan dalam operasional perusahaan. Apa saja itu? 1. Utang hipotek Contoh utang jangka panjang yang pertama adalah hipotek. Hipotek sendiri merupakan sebuah utang yang diajukan oleh perusahaan dengan memberikan jaminan berupa aset tetap atau barang tidak bergerak, seperti di antaranya adalah sertifikat tanah, rumah, gedung, bangunan kantor, mesin, dan lain sebagainya. Baca juga: Negara dengan Utang Terbanyak di Asia Tenggara, Indonesia Nomor Berapa? Perusahaan yang mengajukan utang hipotek harus memberikan jaminan tersebut ke pihak pemberi pinjaman. Apabila perusahaan gagal atau tidak dapat melunasi utangnya sesuai dengan tanggal jatuh tempo, maka aset yang sudah dijadikan agunan akan dilelang dan hasilnya akan dipakai untuk melunasi utangnya. 2. Utang obligasi Contoh utang jangka panjang yang berikutnya adalah obligasi atau surat utang. Dalam hal ini, perusahaan akan mengeluarkan surat utang untuk mendapatkan nominal pinjaman sesuai kesepakatan serta tenor yang sudah ditentukan. Apabila kedua belah pihak sudah sama-sama sepakat terkait perjanjian yang dibuat, maka selanjutnya uang pinjaman akan segera diberikan. Obligasi tak hanya dapat dikeluarkan oleh perusahaan besar yang membutuhkan modal atau dana tambahan untuk perputaran uang dalam operasional mereka. Bahkan pemerintah pun juga dapat mengeluarkan surat utang obligasi yang bisa dibeli secara terbuka oleh masyarakat umum. Tujuan Utang Jangka Panjang Setelah mengetahui beberapa contoh utang jangka panjang di atas, berikutnya kami akan memberikan informasi terkait tujuan perusahaan melakukan pinjaman utang jangka panjang. 1. Aset yang masih bisa digunakan Meskipun aset tetap seperti properti, perlengkapan kantor, bahkan hingga mesin produksi dijadikan jaminan untuk mengajukan pinjaman jangka panjang, namun perusahaan masih boleh memanfaatkan aset tersebut untuk operasional. Dengan demikian, operasional perusahaan masih dapat berjalan lancar tanpa terganggu. Baca juga: Cegah Perselisihan dalam Kegiatan Pinjam Meminjam Uang, Surat Perjanjian Utang Piutang Harus Dibuat oleh Kedua Belah Pihak! 2. Bunga yang rendah Pada umumnya, pinjaman jangka panjang memiliki suku bunga tetap (fixed). Apabila suku bunga mengalami kenaikan, maka nilai aset yang dijadikan jaminan juga akan mengikutinya. Sedangkan apabila suku bunga mengalami penurunan, suku bunga pinjaman yang dikenakan akan berada tetap sesuai kesepakatan awal. 3. Jumlah pajak berkurang Perusahaan yang memiliki utang jangka panjang bertanggung jawab untuk membayar suku bunga pinjaman tersebut tiap tahunnya. Dengan demikian, laba atau keuntungan perusahaan pun berkurang, sehingga nominal beban pajak yang harus dilaporkan akan lebih ringan. 4. Perencanaan arus kas yang lebih tertata Dengan suku bunga pinjaman yang tetap dan tidak mengalami naik turun seperti bunga floating, maka perusahaan bisa lebih mudah mengontrol arus kas dengan perhitungan yang lebih pasti terkait bunga pinjaman yang dikenakan. Baca juga: Debt Snowball, Cara Cerdas untuk Lunasi Utang! Itulah beberapa contoh utang jangka panjang serta manfaatnya yang perlu kamu ketahui. Sekali lagi, utang dalam operasional bisnis bukanlah suatu hal yang tabu, bahkan cenderung lumrah kita temui. Sebab, ada kalanya perusahaan membutuhkan utang untuk memperlancar perputaran arus kas keuangan. Selama nominal utang yang dimiliki masih dalam porsi yang sehat, tidak berlebihan, serta perusahaan memiliki aset yang cukup, keberadaan utang masih bisa dianggap wajar-gambar orang berhutang

Contoh utang jangka panjang bisa ditemui dengan mudah dalam operasional perusahaan yang sudah berskala besar. Apa saja contohnya?

Berdasarkan tanggal jatuh tempo, utang terbagi ke dalam dua jenis yang meliputi: utang jangka pendek dan jangka panjang.

Sesuai namanya, utang jangka pendek adalah kewajiban yang harus dibayar oleh perusahaan dalam kurun waktu kurang dari 1 periode akuntansi atau di bawah 1 tahun. Sedangkan utang jangka panjang adalah kebalikannya, di mana kewajiban ini harus dilunasi dalam kurun waktu lebih dari 1 periode akuntansi atau di atas 1 tahun.

Contoh utang jangka pendek dapat dengan mudah kita temui, mulai dari utang dagang, utang dividen, utang jasa, pembayaran diterima di muka, dan lain sebagainya.

Nah, pada artikel kali ini, kami akan memberikan pembahasan terkait contoh utang jangka panjang yang sering ditemukan dalam operasional perusahaan. Apa saja itu?

1. Utang hipotek

Contoh utang jangka panjang yang pertama adalah hipotek. Hipotek sendiri merupakan sebuah utang yang diajukan oleh perusahaan dengan memberikan jaminan berupa aset tetap atau barang tidak bergerak, seperti di antaranya adalah sertifikat tanah, rumah, gedung, bangunan kantor, mesin, dan lain sebagainya.

Baca juga: Negara dengan Utang Terbanyak di Asia Tenggara, Indonesia Nomor Berapa?

Perusahaan yang mengajukan utang hipotek harus memberikan jaminan tersebut ke pihak pemberi pinjaman. Apabila perusahaan gagal atau tidak dapat melunasi utangnya sesuai dengan tanggal jatuh tempo, maka aset yang sudah dijadikan agunan akan dilelang dan hasilnya akan dipakai untuk melunasi utangnya.

2. Utang obligasi

Contoh utang jangka panjang yang berikutnya adalah obligasi atau surat utang. Dalam hal ini, perusahaan akan mengeluarkan surat utang untuk mendapatkan nominal pinjaman sesuai kesepakatan serta tenor yang sudah ditentukan.

Apabila kedua belah pihak sudah sama-sama sepakat terkait perjanjian yang dibuat, maka selanjutnya uang pinjaman akan segera diberikan.

Obligasi tak hanya dapat dikeluarkan oleh perusahaan besar yang membutuhkan modal atau dana tambahan untuk perputaran uang dalam operasional mereka. Bahkan pemerintah pun juga dapat mengeluarkan surat utang obligasi yang bisa dibeli secara terbuka oleh masyarakat umum.

Tujuan Utang Jangka Panjang

Setelah mengetahui beberapa contoh utang jangka panjang di atas, berikutnya kami akan memberikan informasi terkait tujuan perusahaan melakukan pinjaman utang jangka panjang.

1. Aset yang masih bisa digunakan

Meskipun aset tetap seperti properti, perlengkapan kantor, bahkan hingga mesin produksi dijadikan jaminan untuk mengajukan pinjaman jangka panjang, namun perusahaan masih boleh memanfaatkan aset tersebut untuk operasional. Dengan demikian, operasional perusahaan masih dapat berjalan lancar tanpa terganggu.

Baca juga: Cegah Perselisihan dalam Kegiatan Pinjam Meminjam Uang, Surat Perjanjian Utang Piutang Harus Dibuat oleh Kedua Belah Pihak!

2. Bunga yang rendah

Pada umumnya, pinjaman jangka panjang memiliki suku bunga tetap (fixed). Apabila suku bunga mengalami kenaikan, maka nilai aset yang dijadikan jaminan juga akan mengikutinya.

Sedangkan apabila suku bunga mengalami penurunan, suku bunga pinjaman yang dikenakan akan berada tetap sesuai kesepakatan awal.

3. Jumlah pajak berkurang

Perusahaan yang memiliki utang jangka panjang bertanggung jawab untuk membayar suku bunga pinjaman tersebut tiap tahunnya. Dengan demikian, laba atau keuntungan perusahaan pun berkurang, sehingga nominal beban pajak yang harus dilaporkan akan lebih ringan.

4. Perencanaan arus kas yang lebih tertata

Dengan suku bunga pinjaman yang tetap dan tidak mengalami naik turun seperti bunga floating, maka perusahaan bisa lebih mudah mengontrol arus kas dengan perhitungan yang lebih pasti terkait bunga pinjaman yang dikenakan.

Baca juga: Debt Snowball, Cara Cerdas untuk Lunasi Utang!

Itulah beberapa contoh utang jangka panjang serta manfaatnya yang perlu kamu ketahui. Sekali lagi, utang dalam operasional bisnis bukanlah suatu hal yang tabu, bahkan cenderung lumrah kita temui.

Sebab, ada kalanya perusahaan membutuhkan utang untuk memperlancar perputaran arus kas keuangan. Selama nominal utang yang dimiliki masih dalam porsi yang sehat, tidak berlebihan, serta perusahaan memiliki aset yang cukup, keberadaan utang masih bisa dianggap wajar.

Contoh utang jangka panjang bisa ditemui dengan mudah dalam operasional perusahaan yang sudah berskala besar. Apa saja contohnya?

Berdasarkan tanggal jatuh tempo, utang terbagi ke dalam dua jenis yang meliputi: utang jangka pendek dan jangka panjang.

Sesuai namanya, utang jangka pendek adalah kewajiban yang harus dibayar oleh perusahaan dalam kurun waktu kurang dari 1 periode akuntansi atau di bawah 1 tahun. Sedangkan utang jangka panjang adalah kebalikannya, di mana kewajiban ini harus dilunasi dalam kurun waktu lebih dari 1 periode akuntansi atau di atas 1 tahun.

Contoh utang jangka pendek dapat dengan mudah kita temui, mulai dari utang dagang, utang dividen, utang jasa, pembayaran diterima di muka, dan lain sebagainya.

Nah, pada artikel kali ini, kami akan memberikan pembahasan terkait contoh utang jangka panjang yang sering ditemukan dalam operasional perusahaan. Apa saja itu?

  1. Utang hipotek

Contoh utang jangka panjang yang pertama adalah hipotek. Hipotek sendiri merupakan sebuah utang yang diajukan oleh perusahaan dengan memberikan jaminan berupa aset tetap atau barang tidak bergerak, seperti di antaranya adalah sertifikat tanah, rumah, gedung, bangunan kantor, mesin, dan lain sebagainya.

Baca juga: Negara dengan Utang Terbanyak di Asia Tenggara, Indonesia Nomor Berapa?

Perusahaan yang mengajukan utang hipotek harus memberikan jaminan tersebut ke pihak pemberi pinjaman. Apabila perusahaan gagal atau tidak dapat melunasi utangnya sesuai dengan tanggal jatuh tempo, maka aset yang sudah dijadikan agunan akan dilelang dan hasilnya akan dipakai untuk melunasi utangnya.

  1. Utang obligasi

Contoh utang jangka panjang yang berikutnya adalah obligasi atau surat utang. Dalam hal ini, perusahaan akan mengeluarkan surat utang untuk mendapatkan nominal pinjaman sesuai kesepakatan serta tenor yang sudah ditentukan.

Apabila kedua belah pihak sudah sama-sama sepakat terkait perjanjian yang dibuat, maka selanjutnya uang pinjaman akan segera diberikan.

Obligasi tak hanya dapat dikeluarkan oleh perusahaan besar yang membutuhkan modal atau dana tambahan untuk perputaran uang dalam operasional mereka. Bahkan pemerintah pun juga dapat mengeluarkan surat utang obligasi yang bisa dibeli secara terbuka oleh masyarakat umum.

Tujuan Utang Jangka Panjang

Setelah mengetahui beberapa contoh utang jangka panjang di atas, berikutnya kami akan memberikan informasi terkait tujuan perusahaan melakukan pinjaman utang jangka panjang.

  1. Aset yang masih bisa digunakan

Meskipun aset tetap seperti properti, perlengkapan kantor, bahkan hingga mesin produksi dijadikan jaminan untuk mengajukan pinjaman jangka panjang, namun perusahaan masih boleh memanfaatkan aset tersebut untuk operasional. Dengan demikian, operasional perusahaan masih dapat berjalan lancar tanpa terganggu.

Baca juga: Cegah Perselisihan dalam Kegiatan Pinjam Meminjam Uang, Surat Perjanjian Utang Piutang Harus Dibuat oleh Kedua Belah Pihak!

  1. Bunga yang rendah

Pada umumnya, pinjaman jangka panjang memiliki suku bunga tetap (fixed). Apabila suku bunga mengalami kenaikan, maka nilai aset yang dijadikan jaminan juga akan mengikutinya.

Sedangkan apabila suku bunga mengalami penurunan, suku bunga pinjaman yang dikenakan akan berada tetap sesuai kesepakatan awal.

  1. Jumlah pajak berkurang

Perusahaan yang memiliki utang jangka panjang bertanggung jawab untuk membayar suku bunga pinjaman tersebut tiap tahunnya. Dengan demikian, laba atau keuntungan perusahaan pun berkurang, sehingga nominal beban pajak yang harus dilaporkan akan lebih ringan.

  1. Perencanaan arus kas yang lebih tertata

Dengan suku bunga pinjaman yang tetap dan tidak mengalami naik turun seperti bunga floating, maka perusahaan bisa lebih mudah mengontrol arus kas dengan perhitungan yang lebih pasti terkait bunga pinjaman yang dikenakan.

Baca juga: Debt Snowball, Cara Cerdas untuk Lunasi Utang!

Itulah beberapa contoh utang jangka panjang serta manfaatnya yang perlu kamu ketahui. Sekali lagi, utang dalam operasional bisnis bukanlah suatu hal yang tabu, bahkan cenderung lumrah kita temui.

Sebab, ada kalanya perusahaan membutuhkan utang untuk memperlancar perputaran arus kas keuangan. Selama nominal utang yang dimiliki masih dalam porsi yang sehat, tidak berlebihan, serta perusahaan memiliki aset yang cukup, keberadaan utang masih bisa dianggap wajar.

Leave a Reply